RSS

Level 11 Kelas Bunsay Hari 1 – Review 1

16 Jan

Bismillah..

Kali ini kelas Bunsay berbeda dengan tantangan level-level sebelumnya. Tema yang diusung mengenai fitrah seksualitas. Para peserta diminta berkolompok secara acak dan nantinya akan mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok selama 10 hari. 1 kelompok 1 hari. Waktu bebas, mau dimulai kapan. Media juga bebas.

Materi fitrah seksualitas yang didiskusikan di dalam kelompok, harus bisa menjawab 4 pertanyaan berikut ini: apa itu fitrah seksualitas, tantangan apa yang ada di depan terkait fotrah seksualitas, apakah penting membangkitkan fitrah seksualitas dan bagaimana caranya, serta buatlah media edukasi.

Tujuan utama dari level 11 ini yaitu untuk melatih membuat review terhadap apa yang dipresentasikan, membentuk grup, memecahkan masalah dalam diskusi, dan melatih konsisten tentunya.

Hari pertama di Kelas IIP Bogor 2 dimulai pada tanggal 8 Januari, hari senin tepatnya. Kelompok yang presentasi pertama kali yaitu The Fab Hiji . Apa itu The Fab Hiji?

Bisa dari kata fabulous atau bisa juga singkatan FAB berasal dari nama anggotanya yakni *F*aza *A*ngie dan *B*ai. Kelompok 1 adalah kelompok yang ditunggu. Kenapa? Tentunya menjadi patokan untuk kelompok selanjutnya, bagaimana cara berpresentasi, media yang digunakan, pembagian tugas saat presentasi, materi apa yang dibahas, dan tentu menjadi sasaran pertanyaan hehhe. Kelompok 1 memulai menceritakan latar belakang demgan baik berupa data fakta jumlah anggota grup di fb yang tenang grup gay. Jumlahnya banyak lho, ribuan anggotanya. Tentu membuat audiens meras shock dan sedih. Apalagi lokasinya di Bogor. Yang paling disoroti dari grup ini adalah mengenai LGBT, terutama yang ada di Bogor. Selanjutnya, menjelaskan mengenai tantangan, mereka membaginya menjadi tantangan eksternal dan internal. Menarik, seperti sedang membuat SWOT jadinya. Lalu, selanjutnya mengenai pengertian fitrah seksualitas yang disadur dari tulisan bapak Harry Santosa yang merupakan penulis buku Fitrah Based Education. Kemudian, berlanjut kepada solusi yang bisa kita lakukan sebagai orang tua terhadap tumbuh kembang anaknya. Ya, kelompok ini fokus pada internal, yaitu pendidikan di dalam rumah yang bisa dilakukan. Terutama tentang kedekatan orang tua terhadap anak, yang dimulai sejak usia lahir hingga baligh. Peran ayah dan ibu sangat penting dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak. Quote penutup:

“`The bond that links a true family is not one of blood but of respect and joy in each other’s life” (Richard Bach)“`

Pembagian tugas menarik, dibagi menjadi 3 peran yang pas. Satu orang menjadi moderator yang saya lihat sebagau pemandu diskusi, mengatur jalannya tanya jawab, dan tentunya mengatur dan menghidupkan presentasi. Satu orang menjadi pemberi materi yang tentunya hasil diskusi kelompok 1. Sepertinya mereka membuatnya dari ppt yang di save menjadi gambar. Dengan mencantumkan penjelasan di setiap caption gambarnya. Lalu, satu orang lagi yang menjawab pertanyaan. Pertanyaan dikumpulkan. Terlebih dahulu dan dijawab pada pukul 5 sore. Seusai dengan jam online anggota kelompok 1 lagi. Dengan mengumpulkan pertanyaan ini tentunya membantu memberi jawaban dengan lebih baik dan sumber yang lebih banyak. Tak lupa di akhir, mereka memberikan media edukasi sederhana berupa video. Ini link media edukasi grup 1: http://bit.ly/2Ffr7Rl .

Banyak pelajaran yang saya ambil yang saya gunakan di kelompok saya, seperti pembagian peran saat presentasi. Saat sesi tanya jawab, konsepnya juga menarik, pertanyaan yang belum bisa jawab dilemparkan pada audiens untuk membantu menjawabnya.

Berikut, rangkumannya:

_Hasil Diskusi Fitrah Seksualitas_
_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang Level #11_
_Kelompok 1_

*FITRAH SEKSUALITAS*

*Tantangan yang Berkaitan dengan Gender Saat ini*

Tantangan yang berkaitan dengan gender, dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni tantangan dari internal keluarga inti dan dari eksternal.

_1. Tantangan Internal_
a. Ayah/ibu atau suami/istri harus bersikap, berpikir, bertindak dan berperan sesuai dengan gendernya.
b. Setiap anak harus diasuh, dididik dan dibesarkan sesuai dengan fitrah, tahapan perkembangan dan gendernya.
c. Setiap keluarga harus kokoh dan dibentengi oleh norma agama dan aturan yang berlaku sehingga terhindar dari penyimpangan gender.

_2. Tantangan Eksternal_
a. Lingkungan sekitar tempat tinggal/pergaulan yang tidak sesuai dengan visi misi pengasuhan, bahkan parahnya terpapar LGBT
b. Propaganda dari berbagai oknum dan media yang kian gencar menyebarkan LGBT+ dengan dalih HAM

*Apa Itu Fitrah Seksualitas?*

Menurut Santosa (2016), setiap anak dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki dan perempuan. Bagi manusia, jenis kelamin ini akan berkembang menjadi peran seksualitasnya. Bagi anak perempuan akan menjadi peran keperempuanan dan keibuan. Bagi anak lelaki menjadi peran kelelakian dan keayahan.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa, bersikap sesuai dengan gendernya. Fitrah seksualitas keperempuanan adalah bagaimana seorang perempuan itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang perempuan. Fitrah seksualitas kelelakian adalah bagaimana seseorang lelaki itu berfikir, bertindak, bersikap, berpakaian dll sebagai seorang lelaki.

Dalam hal ini, tentunya pengembangan fitrah seksualitas mengacu pada pedoman agama yang dianut oleh individu atau sebuah keluarga.

Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir hingga Aqil baligh. Penumbuhan fitrah seksualitas anak banyak tergantung pada kehadiran peran dan kedekatan ayah dan bunda.

*Seberapa Pentingkah Fitrah Seksualitas?*

1. Allah subhanahu wa ta’ala berkuasa menciptakan gender laki-laki dan perempuan, dimana masing-masing memiliki perbedaan fisik, sifat, karakter, pola pikir yang semuanya memiliki hikmah untuk menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi ini.
2. Setiap orang tua yang diamanahi anak bertanggungjawab dalam hal menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak mereka sesuai dengan tuntunan perintah Allah agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.
3. Anak memiliki hak untuk tumbuh menjadi manusia seutuhnya (sesuai dengan fitrah gendernya) agar dapat menjalankan peran khalifah/misi hidupnya secara optimal.
4. Jika fitrah seksualitas tidak berkembang dengan baik, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang harus “dibayar” ketika dewasa kelak. Berdasarkan hasil riset, anak-anak yang tidak mendapatkan peran orangtua (karena perang, bencana alam, perceraian, dll) akan mengalami gangguan kejiwaan, masalah sosial dan seksualitas saat dewasa. LGBT adalah perilaku yang diakibatkan salah asuh (psycho genic) dan salah budaya atau lifestyle (socio genic).

*Solusi Untuk Tantangan Fitrah Seksualitas*

1. Didiklah anak sesuai dengan tuntunan agama, kuatkan kelekatan ayah dan ibu untuk menumbuhkan fitrah seksualitas gendernya.
2. Peduli terhadap lingkungan, edukasilah sesuai kemampuan.

*Sumber Referensi*

Santosa, Harry. _Fitrah Based Education Version 2.5_. Yayasan Mutiara Timur. Desember 30, 2016.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Advertisements
 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: