RSS

Kepemimpinan Profetik Thalut Daud-Sulaiman

05 Aug

Judul Materi       : Kepemimpinan Profetik Thalut  Daud-Sulaiman

Narasumber       : Bachtiar Firdaus, MPP

Nabi Sulaiman allaihissalam merupakan raja segala raja. Nabi Daud allaihissalam juga merupakan seorang raja yang cerdas, tegas, dan adil. Keduanya dikenal sebagai nabu yang meraja (tsaric prophet) dan raja yang berwatak kenabian.

 

Kisah Pertama: Kearifan-Ketegasan Daud-Sulaiman

Ketika terdapat 2 orang perempuan yang mengadu kepada nabi Daud allaihissalam yang berkedudukan sebagai seorang raja saat itu. Kasus yang diadukan yaitu salah seorang bayi mereka yang sangat mirip antara satu dengan lainnya dibawa oleh serigala. Yang tersisa hanyalah seorang bayi. Kedua ibu tersebut mengaku bahwa bayi tersebut adalah anak kandungnya. Karena tidak ada yang mengalah, kasus ini pun diadukan ke Nabi Daud allaihissalam untuk didapat keputusan yang bijaksana. Nabi Daud allaihissalam pun menanyakan dari kedua ibu tersebut manakah yang lebih tua. Kemudian Nabi Daud allaihissalam memenangkan ibu yang berumur lebih tua karena biasanya orang yang lebih tua tidak berbohong. Namun, ibu yang muda tidak puas dengan keputusan tersebut. Ia pun mengadu kepada Nabi Sulaiman allaihissalam yang saat itu berkedudukan sebagai seorang pangeran. Nabi Sulaiman pun memanggil kedua orang ibu tersebut kembali. Kemudian beliau berkata supaya lebih adil untuk membagi 2 bayi yang tinggal satu itu. Kemudian yang lebih tua tidak berekspresi, sedangkan ibu yang lebih muda menangis dan tidak mau. Nabi Sulaiman allaihissalam pun memutuskan bahwa yang lebih berhak yaitu ibu yang lebih muda.

Dari kisah ini disebutkan mengenai kecerdasan Nabi Sulaiman allaihissalam yang mendukung kearifan Nabi Daud allaihissalam. Di dalam kisah ini juga disebutkan bahwa Nabi Daud allaihissalam lebih menggunakan instingnya, oleh karena itu beliau ditegur oleh Allah.

21. dan Adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

22. ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari Kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah Kami ke jalan yang lurus.

23. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka Dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan Dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.

24. Daud berkata: “Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini”. dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.

25. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. dan Sesungguhnya Dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

[QS. Shaad: 21-25]

Di dalam kisah ini dapat diambil hikmahnya bahwa seorang pemimpin tidak boleh mengambil keputusan hanya dari insting dan hanya mendengar dari 1 pihak.

Kisah Kedua: Kisah 2 orang Pekebun

                Dua orang pekebun datang mengadu kepada Nabi Daud allaihissalam yang didampingi Nabi Sulaiman allaihissalam(QS.Al-Anbiya). Pemilik kebun mengadu bahwa kambing si pemilik kambing telah memakan kebun (tanaman) miliknya hingga habis. Pemilik kebun meminta ganti rugi kepada si pemilik kambing. Namun, si pemilik kambing bilang bahwa ia tidak memiliki uang cash. Nabi Daud allaihissalam telah belajar dari QS. Shaad, Nabi Daud allaihissalam pun kemudian mendengar dari 2 pihak. Pemilik kambing mengakui bahwa kambingnya yang memakan tanaman itu. Nabi Daud allaihissalam meminta pemilik kambing untuk ganti rugi. Kemudian Nabi Sulaiman allaihissalam pun memanggil kedua belah pihak dan memberikan seuah solusi baru. Pemilik kebun akan mengurus kambing si pemilik kambing, dan hasilnya akan menjadi miliknya, sedangkan pemilik kambing akan mengurus kebun tersebut hingga kerugian yang ditanggungnya telah lunas. Kedua orang tersebut sangat puas dengan keputusan yang diberikan oleh Nabi Sulaiman allaihissalam.

Dari kedua kisah di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Pemimpin profetik harus cerdas dan tegas, tidak boleh terlalu lama menunggu untuk menghasilkan keadilan.
  2. Kisah pertama didasarkan pada naluri dasar manusia bahwa seorang ibu tidak akan mau bayinya dibelah.
  3. Kasus kedua memberikan solusi keadilan yang terukur (win-win solution).
  4. Tindakan-tindakan hukum dari (kacamata seorang penguasa) atau keputusan manajerial(dari sudut pandang CEO) yang sesuai dengan rasa keadilan umum (fairness) memperlihatkan kualitas kearifan dan pengetahuan sang pengambil keputusan.
  5. Ketika memimpin harus menggunakan rasa keadilan umum.

78. dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

79. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[966]; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.

[966] Menurut riwayat Ibnu Abbas bahwa sekelompok kambing telah merusak tanaman di waktu malam. Maka yang Empunya tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Daud a.s. Nabi Daud memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang Empunya tanaman sebagai ganti tanam-tanaman yang rusak. tetapi Nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya kambing-kambing itu diserahkan Sementara kepada yang Empunya tanaman untuk diambil manfaatnya. dan prang yang Empunya kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. putusan Nabi Sulaiman a.s. ini adalah keputusan yang tepat.

  1. Seorang pemimpin yang cerdas butuh melengkapi dirinya dalam 2 hal:
  1. Membuat mapping, kronologis(pemahaman yang jelas terhadap suatu masalah), kedalaman analisis, dan kekuasaan pengetahuan.
  2. Perbanyak kegiatan membaca yang di luar dari bidang ilmu yang kita pahami atau minati.

QS. Al-Baqarah (246-252)

Surat dan ayat QS. Al-Baqarah (246-252) menjelaskan megenai bagaimana para pemuka Bani Israil dipimpin oleh seorang Nabi bernama Samuel. Nabi Samuel mengenal elit politik bahwa mereka merupakan orang yang suka melarikan diri dan pengecut. Kisah ini menggambarkan ketika terjadi sekulerisasi, bukan menjadi pemimpin yang memimpin keseluruhan sehingga mereka dijajah oleh bangsa Palestina. Tugas kepemimpinan (leadership obligation) mengawali krisis sosial yang dialami Bani Israel selama beberapa abad. Menurut Nabi Samuel, Thalut memiliki kelebihan ilmu dan fisik.

Tiga criteria yang minimal dimiliki seorang pemimpin di masa perjuangan melawan penjajahan:

  1. Ketulusan hati
  2. Penguasaan strtegi yang berbasis ilmu
  3. Keandalan fisik

Tiga criteria ini akan mengalahkan elit-elit politik status quo yakni senioritas dan kelebihan fasilitas.

Tanda kepemimpinan Thalut kemudian diperkuat oleh penemuan kembali “Tabut” (warisan sejarah perjuangan Musa dan Ya’kub) yang telah lama hilang. Cara kepemimpinan Thalut yaitu melatih pertama kali kedisiplinan dan membangun semangat kebersamaan di kalangan prajuritnya demi menghadapi pasukan Jalut (Goliath) yang lebih kuat dan bersenjata lengkap. Untuk mengujinya ia menyuruh pasukannya untuk meminum air dari sungai. Thalut nantinya akan menjadi mertua dari Nabi Daud allaihissalam. Nabi Daud allaihissalam memiliki segala criteria yang disandang Thalut yakni ketulusan motif, kebugaran fisik, dan penguasaan strategi. Namun, ada perbedaan antara Thalut dengan Nabi Daud allaihissalam yaitu Daud berhasil mengatur negara yang lebih besar dan berhasil menyatukan suku-suku Yahudi. Nabi Daud allaihissalam tidak ingin meniru kesalahan Nabi Musa allaihissalam yang mengutamakan kekuatan fisik. Ia mengembangkan ilmu perang dan komunikasi sosial dan ilmu baru (ilmu peleburan besi) serta mengubah transportasi angin.

Thalut, Nabi Daud allaihissalam, dan Nabi Sulaiman allaihissalam memiliki gabungan profesionalisme yang terdiri dari 3 hal, yaitu IQ, EQ, dan SQ. Dari kisah ketiga pemimpin tersebut, mereka masing-masing memiliki criteria sendiri yaitu Thalut sebagai pembebas, Nabi Daud allaihissalam sebagai pemersatu, dan Nabi Sulaiman allaihissalam sebagai pemakmur.

“Raja sejati bukanlah orang yang memimpin secara Tirani dan ditakuti”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2011 in Ringkasan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: