RSS

Hari itu Allah menegurku dengan halus..

30 Jul

Hari itu, hari sebelum aku menuju asrama, Selasa 19 Juli 2011, aku sempatkan diriku untuk membeli sebuah notes di kober. Notes yang menurutku akan sangat berguna untuk menyimpan catatan-catatan rencanaku. Banyak notes dengan cover yang menarik, yang menggambarkan kota-kota di Eropa, seperti London dan Paris,yang tentunya salah satu dari beberapa kota yang ingin kukunjungi suatu saat nanti.

Akhirnya kupilih satu, dengan latar belakang cover berwarna biru seharga 14700, harga yang menurutku tidak terlalu mahal bila dibandingkan membelinya di toko buku yang besar. Setelah selesai, aku pun menuju peron ke arah Bogor untuk pulang dengan memegang karcis berwarna merah. Memilih untuk masuk gerbong delapan, aku menunggu dekat pintu keluar. Tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku:

“Neng, kalo naik ekonomi, hati-hati, banyak copetnya. Waktu itu bapak kecopetan pas mau turun di Citayam. Isinya 30.000, gara-gara itu istri bapak ngga makan pas malam dan besok paginya. Sedih bapak lihat ibu ngga makan, padahal ibu lagi sakit.”

(Padahal karcis yang aku pegang bukanlah karcis ekonomi)

“Hilangnya pas di mana nya pak? biasanya kalo deket pintu memang banyak copetnya, saya dulu juga hampir pernah kecopetan. Bapak kerja di stasiun UI, qo saya baru lihat bapak?”

“Iya neng, saya baru dipindah dari Citayam ke UI. Saya teh tugasnya bersiin stasiun. Serem pisan, kalo harus bersiin rel neng, takut ketabrak kereta. Resiko nya gede kerja di sini neng. Gaji sehari juga ngga besar, sehari cuman 10.000 untuk makan 3 kali/hari bareng istri. Umur udah tua neng, 58 tahun, istri 56. Jadi susah nyari kerjaan yang lain.”

#jleb, jadi teringat notes yang kubeli dan karcis yang kupegang. Harga yang sangat mahal bagi bapak itu. Padahal dengan biaya yang kukeluarkan ini bisa memberi makan 9 kali bagi keluarga bapak.

“Bapak, ngga mau nyoba kerja di UI, mungkin bisa pak, lebih aman juga?”

“Aduh neng, saya teh ngga ada koneksi. Susah kalo ngga kenal siapa-siapa”

Tiba-tiba kereta yang menuju Bogor pun datang. Akhirnya aku harus berpamitan. Pak Maman, nama bapak itu, menucapkan hati-hati dengan tulus. Padahal baru saja kenal saat itu, bapak itu tersenyum layaknya seseorang yang sudah mengenal lama. Ya, Allah telah menegurku untuk bijaksana dan bersyukur terhadap rizki yang telah kuterima. Dan mengingatkan bahwa dalam rizkiku masih ada hak orang lain. Pelajaran yang sangat berharga. Allah telah menegurku dengan halus hari ini…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2011 in pikiran-pikiranku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: