RSS

Rahmah el-Yunusiah: Pelopor Pendidikan Perempuan

02 Jul

Resume ini merupakan kisah riwayat hidup seorang tokoh muslimah yang bisa memberikan inspirasi bagi para wanita muslimah di Indonesia, bahwa KITA BISA BERKARYA dan MENCAPAI CITA-CITA YANG TINGGI…

Resume Biografi Tokoh

Rahmah el-Yunusiah

Pelopor Pendidikan Perempuan

Penulis: Junaidatul Munawaroh

Rahmah el-Yunusiah (1318-1388/1900-1969) merupakan seorang ulama perempuan yang berasal dari Sumatra Barat. Ia berperan besar dalam pembaharuan pendidikan Islam dalam rangka meningkatkan posisi kaum perempuan dengan cara membangun Diniyah School Putri. Orang Belanda, Cora Vreede dan De Stuers, melihat ketokohan Rahmah dari dua sisi. Pertama, seperti Ki Hajar Dewantoro, pendiri perguruan Taman Siswa, Rahmah dilihat sebagai seorang tokoh yang tampil atas inisiatif pribadi, bukan dari suatu organisasi tertentu. Kedua, ia ditempatkan sejajar dengan tokoh pergerakan perempuan, Kartini dengan surat-suratnya, dan Dewi Sartika dengan sekolahnya, yang berjuang memperbaiki posisi kaum wanita melalui pendidikan.

Alasan mengapa kedua orang Belanda tersebut menempatkan Rahmah pada posisi demikian yaitu dia telah berhasil merealisasikan gagasannya tentang pendidikan Islam, sebagai basis pembentukan masyarakat Muslim yang menghargai derajat kaum perempuan. Madrasah Diniyah li al-Banat atau yang lebih dikenal dengan Diniyah School Putri adalah buah terbesar karya Rahmah yang sangat terkenal di Nusantara bahkan hingga Mancanegara sampai dengan saat ini. Sekolah ini didirikan pada tanggal 1 November 1923, dengan siswa 71 orang yang terdiri dari kaum ibu muda. Saat ini, egedung sekolah yang digunakan telah menjadi perguruan besar yang dapat menampung 2000 siswa dan mahasiswa.

Rahmah telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya, yaitu 46 tahun, untuk mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan. Ia telah mendirikan lembaga untuk pendidikan Al-Qur’an, Menjesal School untuk kaum ibu yang belum bisa baca-tulis, Freubel School (TK), Junior School (Setingkat HIS), hingga Diniyah School Putri 7 tahun secara berjenjang dari tingkat ibtidaiyah hingga tsanawiyah. Pada tahun 1937 didirikan program Kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyah untuk mendidik calon guru selama 3 tahun. Untuk perguruan tinggi dibangun Fakultas Tarbiyh dan Dakwah(1967). Ia juga mendirikan sekolah tenun (1936).

Latar belakang keluarga dan pendidikannya, yaitu ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara, yang lahir dari pasangan Rafi’ah dan Muhammad Yunus bin Imanuddin. Ia lahir pada hari Jum’at pagi 20 Desember 1900 atau dalam kalender Islam 1 Rajab 1318 di negeri Bukit Surungan Padang Panjang. Secara genetis is berasal dari suku Sikumbang dengan kepala suku bergelar Datuk Bagindo Ma (ha) rajo.

Ayah Rahmah adalah seorag ulama besar yang menjabat sebagai kadi di negeri Pandai Sikat, Padang Panjang. Ia juga seorang Hajji yang mengikuti pendidikan agama selama 4 tahun di Mekkah. Imanudin, ayah Rahmah, adalah seorang ahli falak dan pemimpin tarekat Naqsabandiyah.

Kakak sulung Rahmah bernama Zaenuddin Labay. Bagi Rahmah, ia meruakan seorang guru yang banyak memberikan bimbingan dan dorongan yang sangat berarti bagi perkembangan intelektual Rahmah. Selain itu, menurut Rahmah, ia juga seorang ulama besar yang otodidak, yang dikenal sebagai pendidik dan tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam model surau dengan “Diniyah School-nya”. Ia juga menguasai beberapa bahsa asing seperti Inggris, Arab, dan Belanda yang membantunya dalam melihat literature-literatur asing. Rahmah sangat menyegani dan mengagumi kakanya ini. Baginya Labay adalah seorang pemberi inspirasi, pendukung cita-citanya dan seorang guru baginya.

Oleh karena itu walaupun Rahmah tidak mendapatkan pendidikan formal yang memadai-ia hanya sempat menempuh sekolah dasar selama 3 tahun- kemampuan Rahmah dalam baca-tulis Arab dan Latin dibantu oleh kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Kecerdasan Rahmah mendorong ia bersika kritis, tidak lekas puas, dan selalu mencari yang baru. Ketika ia tidak puas dengan sistem koedukasi pada Diniyah School yang kurang terbuka kepada siswa putri mengenai persoalan khusus perempuan, ia merasa perlu memperdalam pelajaran agamanya kepada Haji Rasul, ayah Buya Hamka. Teman Rahmah yang ikut belajar di Haji Rasul adalah Rasuna Said(pahlawan nasional). Kemudian Rahmah berganti guru ketika Haji Rasul harus pulang kembali ke kampungnya. Ia berguru kepada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Mohammad Jamil Jambek, dan Syekh Daud Rasyidi.

Cita-cita Rahmah memberikan pendidikan untuk kaum perempuan melelui diniyah school putrid telah tercapai. Namun, tidak membuat langkah Rahmah menjadi surut dalam hal belajar. Ia mengikuti kurus ilmu kebidanan di RSU Kayu Taman dan mendapat izin praktek dari dokter. Selain itu ia juga belajar ilmu kesehatan dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) dari 6 orang dokter. Rahmah juga belajar gimnastik dari seorang guru Belanda, Mej. Oliver, pada majlis Norma School (Sekolah pendidikan guru).

Lingkungan Sosial

Masyarakat Minangkabau saat Rahmah masih kecil mengalami perkembangan social-keagamaan sangat insentif. Hal ini terutama disebabkan oleh intensifnya kontak putra daerah ini dengan Timur Tengah yang membawa doktrin Islam ortodoks dan pembaharuan, di antaranya Thaher Jalaluddin, Ahmad Khatib, dan empat serangkai murid-muridnya Pada awal abad ke-20 kontak tersebut diperluas hingga ke Mesir sehingga mempunyai hubungan langsung dengan Al-Azhar di Kairo.

Selain gelombang pembaharuan Islam, masa remaja Rahmah juga menyaksikan putra Minangkabau yang banyak berkiprah dalam pergerakan nasional seperti berdirinya Boedi Oetomo, Sarekat Dagang Islam, Perhimpunan Indonesia yang dipimpin oleh Muhammad Hatta. Selain itu juga terdapat besarnya pertisipasi kaum perempuan yang merupakan indicator tingginya tingkat kesadaran emansipasi perempuan Minangkabau. Semangat nasionalisme ini setidaknya dapat memberi Rahmah inspirasi dalam mengarahkan tujuan dan lingkup perjuangannya, yang tidak semata-mata hanya untuk kepentingan local, tetapi juga untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Mendirikan Diniyah School Putri

Cita-cita seorang Rahmah yaitu membangun sekolah khusus kaum perempuan. Cita-cita Rahmah ini muncul dari kesadaran akan adanya ketidakadilan yang dialami kaumnya, di samping ketimpangan social dalam masyarakatnya. Dia melihat kaumnya jauh tertinggal dari laki-laki, mereka berada dalam kejahilan dan kepasrahan pada keadaan, sehingga masyrakat pada umumnya, termasuk perempuan, menganggap diri mereka makhluk yang lemah dan terbatas. Contohnya saja ketika ia menghimpun ibu-ibu muda untuk belajar di sekolah yang baru ia dirikan, ia tidak luput dari cemoohan orang. Marginalisasi perempuan seperti ini merupakan pandangan umum masyarakat MInangkabau masa itu.

Rahmah melihat bahwa ketidaksetaraan kepandaian perempuan dengan laki-laki ini disebabkan karena mereka tidak mendapatkan kesempatan beajar yang sama. Hal ini ia rasakan ketika belajar di Dinyah School. Murid perempuan kurang mendapatkan penjelasan agama secara mendalam tentang persoalan yang berkaitan dengan perempuan. Guru-guru, yang merupakan seorang laki-laki, tidak bereterus terang dalam mengupas pelajaran agama, di sisi lain murid-murid perempuan pun enggan bertanya; padahal perempuan memiliki persoalan yang kompleks dan rumit. Menurut Rahmah, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Perempuan adalah pendidik anak-anak yang akan mengendalikan jalur kehidupan mereka selanjutnya. Rahmah menggambarkan bahwa rumah tangga adalah tiangnya masyarakat, dan tiang masyarakat adalah tiangnya Negara. Atas dasar itu, untuk meningkatkan kualitas dan memperbaiki kedudukan perempuan diperlukan pendidikan khusus kaumperempuan yang diajarkan oleh kaum perempuan sendiri. Kenyataan inilah yang terus mendorong semangatnya untuk terus belajar sehingga dapat mendidik kaumnya menurut dasar agama dan mendirikan Diniyah School khusus putrid.

Keinginan mendirikan sekolah ii ia ceritakan kepada kakaknya Labay. Labay pun mendukung keinginan adiknya itu. Kemudian Rahmah merundingkannya dengan teman-teman perempuan di Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS) yang ia pimpin, mereka pun menyetujui dan endukung gagasan itu. Maka pada 1 November 1923, sekolah itu dibuka dengan nama Madrasah Diniyah li al-Banat, dipimpin oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah. Angakatan pertama terdiri dari kaum ibu muda berjumlah 71 orang. Pada waktu itu proses belajar berlangsung dengan sistem khalaqah, hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dan graatika bahasa Arab. Dalam perkembangan seanjutnya sekolah ini menerapkan sistem pendidikan modern yang mengintegrasikan pengajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum secara klasikal, serta member pelajaran keterampilan.

Mengabdi pada Dunia Pendidikan    

            Rahmah terus berupaya untuk mengembangkan sekolah yang ia bentuk. Ia berupaya mencari tempat yang memenuhi syarat, yaitu rumah batu yang bertingkat 2, yang mana bagian atas gedung digunakan untuk asrama, bagian bawah untuk kelas.

Usaha Rahmah tidak berhenti sampai di situ. Padatahun 1925 ia berencana untuk membangun gedung sendiri yang dapat menampung seluruh murid. Sebelum rencana itu terlaksana , Padang Panjang dan sekitarnya diguncang oleh gempa bumi yang merobohkan bangunan-bangunan yang termasuk gedung asrama dan sekolahnya. Sekitar 40 hari setelh musibah itu ia mulai membangun kembali asrama dan tempat belajar di atas sebidang tanah pemberian wakaf ibunya, Umi Rafi’ah.

Perjuangan Rahmah tidak berhenti hanya untuk membangun gedung sekolah dan asrama yang dapat menampung selruh murid. Ia selalu berusaha membarikan yang terbaik untuk bagi lembaga yang dicintainya. Maka pengumpulan dana pembangunan gedung sekolah terus dilakukan, meski hasilnya tidak selalu memuaskan. Rahmah dan pengurusnya tetap optimis bisa melanjutkan usahanya. Bahkan ketika Mohammad Zein Jambek menawarkan diri ingin membantunya dalam penggalangan dana, ia menolak secara halus. Rahmah ingin membuktikan bahwa perempuan itu bukan hanya ibu rumah tangga, tetapi mampu berkarya secara mandiri. Rahmah membuktikannya dalam mengatasi kesulitan dana dan berbagai cobaan yang menimpanya. Gedung yang menelan biaya 7000 gulden pun akhirnya berhasil didirikan dan mampu untuk ditempati oleh 275 dari 350 murid.

Untuk memperluas pengetahuannya tentang krikuum sekolah, Rahmah melakukan studi banding melalui kunjungan-kunjungan sekolah ke Sumatera dan Jawa (1931). Dia juga mengembangkan program pendidikan yang lain sebagai cabang Diniyah School Putri, antara lain Menjesal School (1926) untuk pemberantasan buta aksara dengan sistem kelas, yang diikuti oleh 125 siswa kalangan kaum perempuan dewasa. Selanjutnya 1934 ia mendirikan taman kanak-kanak, Freubel School.

Rahmah juga ingin memngembangkan pendidikan agama di kota-kota lain. Ketika mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia mewakili kaum Ibu Sumatera Barat (1935), di sela-sela kegiatannya dia mengemukakan ide tersebut  dan mendapat sambutan masyarakat, sehingga dalam waktu relative singkat, ia dapat membuka cabang Diniyah School Putri di kota Kwitang dan Tanah Abang 2 dan 7 September 1935), di Jatinegara dan Rawasari (1950).

Memasuki usia sekitar 13 tahun, sekolah ini mulai menerima surat-surat permintaan tenaga guru, bukan hanya dari Minangkabau tetapi juga dari lur daerah bahkan dari Singapura dan Malaysia. Namun, untuk memenuhi kebutuhan guru yang berkualitas, Rahmah tidak cukup puas dengan calon-calon guru yang telah menamatkan kelas 7 (Tamat Tsanawiyah). Ia mempunyai gagasan untuk mendirikan sekolah lanjutan dari tingkatan sekolah yang sudah ada (Ibtidaiyah 4 tahun, dan Tsanawiyah 3 tahun). Gagasan ini pun disampaikan kepada ikatan guru-guru Agama Putri Islam (GPAPI), yang kemudian menerima gagasan itu. Maka pada 1 Februari 1937 didirikan Kulliyatul Muallimat el-Islamiyah dengan masa belajar 3 tahun. Setahun kemudian, 1938, Rahmah pun mendirikan Kulliyatul Mu’allimin el-Islamiyah untuk Diniyah School Putra.

Upaya pengembangan selanjutnya adalah merintis program pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sejak 1964, Rahmah telah merintis pendirian Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 22 November 1967, kedua fakultas tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Prof. Drs. Harun Zein.

Pandangannya tentang Sekolah

Rahmah mengutamakan bidang pendidikan di atas kepentigan lainnya, meskipun di kemudian hari ia juga berkiprah di dunia politik. Atas dasar ini ia menempatkan sekolah secara independen, bebas dari afiliasi dengan ormas, atau orpol manapun. Setahun sebelum Muhammadiyah memasuki Minangkabau, Diniyah School Putri diajak bergbung dengan organisasi social-keagamaan dan disarankan agar namanya diganti dengan Aisyiyah School atau Fatimiyah School. Namun, saran itu tidak diterima oleh para guru Diniyah School Putri.

Menurut Rahmah, politik untuk murid adalah kecintaan mereka pada tanah air didasari iman yang kuat. Kalau iman tidak ada, politik dapat menjadi boomerang, yang akan menentang dan menghancurkan agama.

Sifat independensi sekolah ini ditunjukkan ketika Rahmah menolak penggabungan sekolah-sekolah Islam di Minangkabau oleh Mahmud Yunus. Mahmud Yunus ingin menerapkan konsep pembaharuan pendidikan Islam  dan memprakarsai pemebentukan panitia Ishlah al-Madaris al-Islamiyah Sumatera Barat. Namun, Rahmah tetap teguh pada pendirian indpendensi sekolahnya, maka ia menolak keras ide itu. Menurutnya, lebih baik memelihara satu saja tapi terawatt, daripada bergabung tetapi porak-poranda.

Berhadapan dengan politik-kolonialisme pemerintah Belanda, Rahmah memilih sikap nonkooperatif dalam memperjuangkan kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Atas dasar sikap ini, ia menolak bekerja sama dengan Belanda termasuk dalam hal pemberian subsidi yang berulang kali ditawarkan. Subsidi pemerintah colonial akan membuat dirinya terikat, dan mengakibatkan keleluasaan pemerintah colonial Belanda mempengaruhi pengelolaan program pendidikan Diniyah School Putri ini.

Aktif dalam Perjuangan Kemerdekaan    

            Rasa tanggung jawab yang besar, penuh toleransi, dan kasih saying membuat tokoh perempuan ini begitu peka terhadap persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakatnya. Rahmah selalu tampil dalam setiap aksi baik sebagai anggota maupun pimpinannya. Pada 1933, dia pernah mengetuai Rapat umum Kaum Ibu di Padang Panjang. Dalam meningkatkan martabat perempuan, dia melibatkan diri sebagai anggota pengurus “Serikat Kaum Ibu Sumatra” (SKIS) yang berjuang melalui penerbitan majalah bulanan perempuan. Rahmah pun pernah mengetuai Kutub Khannah (taman bacaan) masyarakat Padang Panjang pada 1935. Pada tahun itu juga ia bersama Ratna Sari mewakili kaum ibu Sumatera Tengah ke kongres perempuan di Jakarta. D   I kongres ini ia memperjuangkan ide tentang busana perempuan Indonesia hendaknya memakai selendang (kerudung). Ide ini menggambarkan pandangan hidupnya yang religious, dan sedapat mungkin berusaha memberikan cirri khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia.

Masih dalam persoalan meningkatkan martabat perempuan, pada masa Jepang Rahmah memasuki organisasi “Anggota Daerah Ibu” (ADI) yang didirikan oleh kaum ibu Sumatera Tengah. Bersama kaum ibu ia menentang Jepang yang menggunakan perempuan Indonesia, khusunya Sumatera Tengah, sebagai noni-noni penghibur tentara Jepang di rumah-rumah kuning, dan menuntut Jepang agar menutup rumah maksiat itu karena tidak sesuai dengan agama dan budaya masyrakat setempat.

Selain itu, Rahmah juga aktif dalam berbagai kegiatan social-politik dalam upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rahmah adalah orang yang memandang perlunya kerja sama dengan Jepang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Karena itu, pada masa penjajahan Jepang dia memasuki lembaga militer, politik, maupun social yang didirikan pemerintah colonial Jepang, yang digunakan sebagai wadah memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, antara lain:

  • Gyu Gun Ko En Kai (lascar rakyat)
  • Menjadi ketua Haha no Kai (organisasi perempuan) di Padang Panjang, untuk membantu pemuda-pemuda indonesia yang terhimpun dalam Gyu Gun (lascar rakyat) agar mereka kelak dapat dimanfaatkan dalam perang revolusi perjuangan bangsa.
  • Semasa perang asia-pasifik, gedung sekolah Diniyah Putri dua kali dijadikan rumah sakit darurat untuk menampung korban kecelakaan kereta api. Atas peristiwa ini Diniyah School Putri mendapat Piagam Penghargaan dari Pemerintah Jepang.

Ketika dia menerima berita proklamasi kemerdekaan dari Engku Syafe’I, bangkitlah semangat juangnya. Dia langsung mengibarkan bendera merah putih di halamn depan Perguruan Diniyah Putri. Konon dialah orang pertama yang mengibarkan bendera Indonesia di Sumatera Barat, karena pada waktu itu jaringan komunikasi masih dikuasai Jepang.

Setelah era kemerdekaan, Rahmah terus menggabungkan diri dalam organisasi social dan politik untuk membangun negerinya. Kiprah Rahmah dalam upaya ini antara lain:

  • Mempelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
  • Mengayomi barisan-barisan pejuang yang dibentuk organisasi Islam waktu itu, seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbulwatan.
  • Ditunjuk sebagai anggota Sub-panitia Keamanan bagian Tawanan Politik dan Tawanan Perang, dengan SK ketua Delegasi RI dalam Local Joint Committee Sumatera Tengah di Bukittinggi.
  • Memimpin dapur umum untuk TNI dan Barisan Pejuang.
  • Ia diundang untuk menghadiri “Kongres Pendidikan Antar Indonesia” di Yogyakarta sebagai wakil Sumatera.
  • Sekitar tahun 1952-1954 dia menjadi anggota Dewan Partai Masyumi di Jakarta, kemudian menjadi penasihat Masyumi Muslimat di Sumatera Tengah hingga 1955.
  • Terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai Masyumi untuk Daerah pemilihan Sumatera Tengah hingga tahun 1958.

Pengakuan Masyarakat

Keberhasilan Rahmah dalam mengelola Perguruan Diniyah Putri ini menarik perhatian Rektor Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj. Maka pada 1955 dia mengadakan kunjungan khusus ke perguruan ini. Di kemudian hari ia mengambil sistem pendidikan Diniyah Putri ini untuk mahasiswinya. Pada saat itu, Universitas Al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus untuk perempuan. Tidak lama setelah itu berdirilah Kulliyat al-Banat, sebagai bagian dari Universitas al-Azhar Cairo. Sebagai penghargaan, Rahmah diundang berkunjung ke universitas itu. Dalam kunjungan balasannya (1957) yang dilakukan sepulang menunaikan ibadah haji, Rahmah dianugerahi gelar Syaikhah oleh Universitas al-Azhar Cairo. Dengan gelar tersebut kedudukan Rahmah setara dengan Syeikh Mahmoud Syalthout, mantan Rektor al-Azhar, yang pernah berkunjung ke Indonesia tahun 1961. Hamka, yang mengaku sebagai adiknya, sangat mengaguminya dan mengatakan bahwa gelar tertinggi itu biasanya dikenakan bagi seorang laki-laki pakar ilmu agama (Syeikh). Sepengatahuannya selama beberapa ratus tahun ini, hanya Rahmahlah yang memperoleh anugerah gelar penghargaan tersebut di dunia Islam.

Atas jasa besar Rahmah dalam mendidik kaum perempuan dan perjuangannya dalam memimpin masyarakat, orang-orang terkemuka pada zamannya telah member Rahmah gelar “Kartini dari Perguruan Islam”. Bahkan gelar “Pahlawan Nasional” pun telah digenggamnya.

Setelah menunaikan tugas hidup dan perjuangannya akhirnya Rahmah berpulang ke Rahmatullah pada jam 18.00 menjelang maghrib, Rabu 26 Februari 1969 atau 9 Dzulhijah 1388 di rumahnya. Peristiwa ini terjadi dengan tiba-tiba, karena beberapa saat sebelumnya dia masih bercengkerama dengan beberapa orang tamunya.

Dari perjalanan hidupnya, dapat disimpulkan bahwa Syaikhah Rahmah el-Yunusiah adalah seorang tokoh yang berhati baja dan pantang menyerah dalam kesulitan. Pengetahuan dan kesadaran  yang tinggi telah membentuk visi perjuangannya dalam memberdayakan dan menjunjung tinggi martabat perempuan melalui pendidikan, dan menentang kesewenang-wenangan demi terwujudnya kebebasan. Dalam mewujudkan cita-citanya itu, ia telah mengabdikan seluruh hidupnya, bahkan hartanya dengan berbagai perjuangan keras

Tulisan ini diresume oleh Aisyah Iadha Nuraini.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 2, 2011 in Resensi Buku

 

One response to “Rahmah el-Yunusiah: Pelopor Pendidikan Perempuan

  1. Azis Wae

    July 4, 2011 at 8:17 pm

    mantap ini artikelnya…hhe

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: