RSS

Pemuda Harus Evaluasi Diri

28 Jun

Apabila ditilik dari sejarah, mahasiswa sudah berumur sama dengan pergerakan nasional bila lulusan dari sekolah STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) dianggap sebagai mahasiswa. Perguruan tinggi di Indonesia sendiri baru berdiri sekitar tahun 1920-an. Di mulai dari fakultas teknik hingga kemudian berlanjut ke fakultas kedokteran.

Pada tahun 1908, mahasiswa Indonesia saat itu sudah bergerak mendorong pergerakan-pergerakan mahasiswa untuk memajukan kemerdekaan bangsa Indoenesia. Padahal bila dilihat dari umur, kisaran umur pemuda-pemuda tersebut hanya sekitar 15 tahun. Sebut saja Dr. Wahidin. Beliau adalah salah satu pemuda yang bergerak saat itu untuk memebntuk organisasi yang dapat memajukan kemerdekaan bangsa Indonesia. Umur bisa dibilang masih sangat muda, tetapi pemikirannya cemerlang layaknya orang dewasa yang saat itu sedang berjuang untuk merdeka. Namun, gerakan mahasiswa yang dilakukan saat itu seakan-akan tertutup oleh pergerakan nasional. Padahal pergerakan nasional, orang-orangnya sendiri terdiri dari pemuda-pemuda yang sebelumnya ikut dalam organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa. Contoh saja Bung Karno dan Bung Hatta serta Sutan Syahrir yang rela dikeluarkan dari perguruan tinggi untuk kemerdekaan bangsa.

Pemuda jugalah yang memaksa Bung Karno untuk untuk melakukan proklamasi sesegera mungkin. Apabila pemuda saat itu tidak turun tangan mendesak Bung Karno maka hari proklamasi bangsa Indonesia pun akan mundur. Pemuda meyakinkan bung Karno bahwa kemerdekaan bisa diraih dengan tangan sendiri, tanpa harus diberikan oleh Jepang yang saat itu kalah dari pihak sekutu.

 

Bagaimana pemuda saat ini?

 

                Zaman untuk mendapatkan kemerdekaan telah kita dapatkan. Saat ini kita telah menjadi bangsa yang bebas untuk menentukan arah perjalanan. Hidup tidak harus lagi takut kepada colonial yang sedang menduduki wilayah. Belajar pun bisa dilakukan oleh siapapun. Kenyamanan sudah berada di tangan. Namun, hingga saat ini keadaan bangsa Indonesia tidaklah sejaya yang dipikirkan oleh orang-orang zaman dalu. Kenyamanan yang ada membuat rasa kepekaan terhadap lingkungan bangsa menjadi tumpul. Pemuda bisa dikatakan hanya memikirkan kehidupannya masing-masing. Hanya sedikit yang memerhatikan keadaan bangsanya.            

 

Mahasiswa saat ini bisa dikatakan masih ‘bergerak’ melakukan aksi terhadap beberapa isu yang dinggap penting. Namun, lebih banyak mahasiswa yang antisocial dengan keadaan lingkungan yang terjadi. Kemajuan teknologi memberikan dampak tersebut, dampak yang menyebabkan mahasiswa kurang peka akan lingkungannya. Contohnya saja ketika sedang terjadi krisis pada bangsa ini, pemuda malah menemukan suatu teknologi yang membutuhkan biaya yang sangat mahal dan hanya bisa dicapai oleh kalangan tertentu.

 

Gaya hidup yang  semakin modern telah memanjakan banyak pemuda menggunakan teknologi-teknologi secara berlebihan. Kebanyakan teknologi yang digunakan bukan berasal dari bangsa sendiri sehingga membutuhkan impor yang akan mengurangi devisa negara. Padahal teknologi yang digunakan tersebut belum tentu maksimal pemakaiannya, namun sudah beralih ke teknologi yang lainnya. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya barang ‘sampah’ di sekitar kita. Barang yang pemakaiannya hanya sebulan sekali, namun membutuhkan biaya yang besar tiap harinya karena terjadi penurunan nilai uang barang tersebut yang turun setiap harinya.

 

Apa yang bisa dilakukan oleh para pemuda ini?    

 

Tidak perlu berpikir jauh-jauh untuk memikirkan apa yang harus dilakukan. Tidak harus seorang mahasiswa yang melakukannya, anak SMA pun juga bisa, karena pemuda bukan hanya mahasiswa. Belajar dari pemuda zaman sebelum kemerdekaan yang melakukan pergerakan,  umurnya saat itu masih sangat muda setingkat SMA pada zaman ini. Nasionalisme yang mereka miliki sangat besar. Ilmu yang mereka pelajari saat itu memberikan pemikiran yang cemerlang mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan.

 

Pemuda saat ini harus membangun rasa nasionalismenya kembali, bisa dimulai dari SMA ataupun sekarang apabila sudah terlambat. Memiikirkan apa yang dipelajari dari sekolah bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga untuk kepentingan bersama dan berusaha agar dapat diaplikasikan untuk kemajuan bangsa. Bersikap hemat terhadap uang yang dipegang saat ini, janganlah mudah membeli suatu teknologi impor yang nantinya hanya akan menjadi barang ‘sampah’ yang penggunaannya tidak maksimal karena devisa negaralah yang akan terus berkurang. Pemuda harus bisa membuat perencanaan hidupnya dengan lebih baik karena pemuda bisa melakukan banyak hal termasuk menggenggam dunia. Seperti kata Bung Karno: “Beri saya seorang pemuda, maka saya akan taklukan dunia”. Tanyakan dalam diri seorang pemuda, ingin menajadi pemuda penakluk dunia atau pemuda penghambat bangsa?

 

Aisyah Iadha Nuraini

 

Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Teknik Industri 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2011 in opini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: