RSS

Pentingnya Sosialisasi dan Tindakan Lanjutan dari UU Sampah

24 Jun

oleh : Aisyah Iadha Nuraini, mahasiswi Teknik Industri UI

Pernah menonton film Wall-E? Film kartun bertema lingkungan yang menceritakan mengenai planet bumi yang ditinggalkan oleh manusia akibat timbunan sampah yang melebihi batas sehingga menyebabkan tidak ada tumbuhan lagi di bumi. Film ini menunjukkan bila bumi tidak dikelola dengan baik, maka manusia harus mencari tempat tinggal yang lain. Apa yang terjadi pada film ini, bisa terjadi dengan dunia saat ini. Manusia terus memproduksi banyak benda untuk dikonsumsi. Produk-produk ini menghasilkan banyak kemasan yang setelah digunakan hanya akan menjadi sampah. Sampah pun sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari yang bisa mengancam keberlangsungan manusia bila tidak ditangani dengan baik. 

 

Sampah terdiri dari 2 jenis, yaitu sampah organic dan non-organik. Sampah yang sering menjadi masalah yaitu sampah non-organik, sampah yang tidak bisa diurai secara alami di alam. Hal ini akan menimbulkan dampak yang sangat besar pada lingkungan, terutama dalam 3 hal yaitu air, kesehatan, wilayah tempat timbunan sampah berada. Sampah yang mencemari air akan menyebabkan sumber kehidupan manusia ini menjadi tidak bisa dikonsumsi oleh manusia. Bila hal ini terus berlanjut, air sebagai sumber utama kehidupan seluruh makhluk hidup akan menjadi sangat langka. Kesehatan pun menjadi hal yang sama seperti air. Sampah identik dengan kotor dan memiliki banyak bakteri yang bisa menimbulkan kesehatan manusia menurun. Bila jumlahnya semakin banyak, tentunya bakteri jahat yang berkembang juga akan semakin banyak. Selain itu, jumlah sampah yang terus bertambah akan mengambil wilayah tempat tinggal manusia sebagai tempat penimbunan sampah.

 

Di Indonesia, produksi sampah diperkirakan mencapai angka 200 juta ton tiap harinya. Namun, dalam hal pengelolaan sampah, jumlahnya tidak sebanding dengan angka produksi sampah tiap harinya. Pengelolaan masih terbentur dengan banyak kendala, seperti biaya, sehingga pemerintah sulit untuk melakukan sistem pengelolaan sampah yang telah dibuat.

 

Oleh karena itu, dibutuhkan peran masyarakat, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan, dan pihak pelaku industri dalam pengelolaan sampah yang baik. Pihak masyarakat bisa melakukan kegiatan sampah dengan mandiri dan terpadu.  Caranya yaitu dengan menggunakan sampah yang masih bisa digunakan kembali, memisahkan antara sampah organic dan non-organik, dan selalu berusaha mengurangi sampah dengan cara menggunakan seminimal mungkin penggunaan plastic atau bahan non-organik.

 

Kemudian pihak lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, dapat menerapkan sistem pemisahan sampah yang memiliki sistem yang terintegrasi. Jadi, pada sistem yang terintegrasi ini, tidak hanya pelaku saja yang diberikan pengetahuan untuk memisahkan sampah, namun juga petugas kebersihan yang mengambil sampah dari tempat sampah yang telah dipisah. Pihak birokrasi harus bisa memastikan setiap petugas sampah untuk mengetahui cara pengelolaan sampah dengan baik sehingga tidak terjadi penggabungan sampah yang telah dipisahkan, kasus yang sering sekali terjadi. Kemudian mahasiswa diharapkan bisa mendaur ulang sampah yang telah dipisahkan oleh petugas kebersihan. Di sini akan timbul tanggung jawab dari setiap orang untuk mengelola sampah yang telah dibuang. Apabila berhasil, maka erguruan tinggi bisa mensosialisasikan ke pihak-pihak lainnya untuk menggunakan sistem ini.

 

Selanjutnya pelaku industry yang diwajibkan oleh pemerintah untuk memiliki sistem pendauran ulang di masung-masing perusahaan. Setiap perusahaan akan diukur jumlah pengggunaan bahan non organic yang digunakan. Jumlah bahan yang digunakan ini, misal dalam satuan kilogram, menjadi tanggung jawab untuk dikelola sampahnya. Apabila perusahaan tidak melaksanakannya, harus dikenakan sanksi yang tegas oleh peihak pemerintah.

 

Dengan adanya berbagai bantuan dari berbagai pihak, diharapkan sampah yang diproduksi akan berkurang. Selain itu akan membantu kinerja pemerintah dan pengurangan biaya untuk pengelolaan sampah itu sendiri sehingga bisa dialokasikan untuk bidang yang lain. (*)

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 24, 2011 in opini

 

One response to “Pentingnya Sosialisasi dan Tindakan Lanjutan dari UU Sampah

  1. ilmueeza

    June 24, 2011 at 11:24 pm

    Yang terpenting sih is kata gue ya dari peneggak hukum n masyarakatnya yang tidak kooperatif, regulasi ada tapi fungsi pengawasan dan pelaksanaannya malah jauh dari harapan.
    hehehe.
    kayaknya semuanya,termasuk gue juga kali, padagakniat hidup di Indonesia, orientasinya kurangtulus untuk mengabdi pada pekerjaannya secara totalitas, ya jadinya keliatan niat gak niat.
    Justru orang-orang banyak melakukan kerja yang totalitas justru saat mengerjakan pekerjaan yang berbeda dari pekerjaan yang sebenarnya.
    Tanya kenapa deh,,,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: