RSS

Kedudukan dan Peran Perempuan di dalam Islam

04 Sep

Ini adalah hasil resume kemarin pas kajian fikih perempuan yang dibawakan oleh bu Eko Yuliarti Sabutu 28 Agustus 2010 di PPSDMS. Saya ingin menshare nya ke teman-teman…^^

Bagaimana perempuan dalam ketentuan di dalam agama Islam? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui terlebih dahulu budaya-budaya perempuan yang terdapat di dunia dari zaman dahulu sebelum Islam dikenal hingga saat ini. Budaya-budaya ini akan dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan dalam Islam tentang perempuan.

Perempuan dalam Budaya Mesir Kuno

Raja-raja Mesir Kuno sering menikahi anak-anak perempuan mereka sendiri, saudara perempuan mereka, bahkan ibunya sendiri. Apabila seorang raja Mesir meniggal dan ia memiliki seorang anak lelaki maka anak lelaki tersebut harus siap untuk menikahi ibunya sendiri dan menjadi seorang raja baru. Perempuan di sini, yaitu sang ibu, layaknya sebuah benda yang diwariskan. Selain itu pergaulan di masyarakatnya pun tidak ada bedanya dengan kondisi di dalam kerajaan. Mereka tidak terkontrol dan telah membuat moralitas diri mereka sendiri menjadi rusak. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya pergaulan bebas yang terjadi di tengah masyarakat. Suatu kaidah yang dipegang oleh kaum lelaki di Mesir Kuno saat itu terhadap perempuan adalah mereka sangat menyukai seorang perempuan yang menutup wajahnya dengan menggunakan cadar, namun baju yang dikenakan sangat minim di atas lutut dan tipis. Biasanya perempuan yang mengenakan pakaian ini melakukan tarian perut di pesta-pesta yang diselenggarakan.

Perempuan dalam Budaya Babylonia

Setiap anak perempuan di masyarakat Babylonia diwajibkan untuk pernah tidur dengan rajanyadi suatu tempat yang bernama Haiqal. Apabila terdapat seorang anak perempuan yang tidak pernah ditunjuk sekali pun oleh sang raja, walaupun ia telah menunggu sangat lama untuk ditunjuk, maka ia tidak boleh menikah dengan pria lain. Sekain itu juga, bagi seorang perempuan yang telah menikah dan menjadi seorang istri, maka ia harus bekerja penuh di rumah suaminya. Apabila umurnya telah mencapai usia lanjut, ia diperlakukan sebagai budak, sedangkan sang suami boleh mencari istri lagi.

Perempuan dalam Budaya Assyria

Perempuan di dalam kelurga ataupun di masyarakat Assyria saat itu diperlakukan sangat keras oleh laki-laki di sekelilingnya. Contohnya saja perempuan yang sudah menikah tidak boleh keluar rumah sama sekali, sedangkan sang suami bisa memutuskan dengan mudahnya dalam menentukan hari kapan ia harus berkunjung menemui istrinya. Selain itu dalam masyarakat Assyria, kegiatan prostitusi dilegalkan oleh pemerintahan, bahkan dilindungi oleh undang-undang. Namun, apabila seorang wanita yang hamil di luar nikah, ia tidak diperolehkan untuk melakukan aborsi. Apabila kedapatan ada seorang wanita yang ketahuan melakukan aborsi maka ia akan dihukum mati. Oleh karena itu, banyak perempuan Assyria yang mengalami stress berat sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membunuh diri sendiri. Mayat perempuan yang melakukan hal tersebut kemudian akan diseret keliling penjuru kota untuk diperlihatkan pada masyarakat sehingga masyrakat, khususnya perempuan, tidak akan melakukan tindakan bunuh diri.

Perempuan dalam Budaya India

Perempuan di India sangat terkekang. Mereka tidak boleh memilih dan melihat calon suami karena hal itu bukanlah hak mereka. Ada juga sebagian perempuan yang dijadikan sebagai hamba Tuhan yang melayani para Brahmana. Mereka bertugas untuk menari dan menyanyi di kuil sebanyak dua kali dalam sehari. Hal ini sangat merepotkan bagi kaum perempuan. Perempuan pun bisa menikah atau dinikahkan dengan berbagai cara seperti nikah yang dilakukan secara paksa, nikah yang biasa saja, pernikahan dengan jual beli yang mana sang perempuan yang dibeli oleh seorang lelaki berarti telah menikah dengan lelaki yang membelinya tersebut, menikah dengan anak kecil yang masih di bawah umur, menikah dengan lebih dari satu perempuan dan tanpa batas. Untuk ursusan akademik, perempuan sama sekali tidak diperbolehkan sekolah ataupun menuntut ilmu sekecil apapun. Hal ini dikarenakan bila perempuan menuntut ilmu, nantinya mereka akan pintar dan bisa merusak atau merubah budaya yang merugikan mereka ini. Bagi seorang perempuan yang telah berkeluarga tidak diperbolehkan untuk bercerai dari suaminya. Selain itu juga, bila sang suami meniggal terlebih dahulu dibandingkan dengan sang istri maka ketika jenazah suaminya sedang dibakar, sang istri harus melompat ke dalam api dan ikut terbakar dengan jenazah suaminya. Hal ini tidak berlaku bila berkebalikan, yaitu ketika sang istri meninggal terlebih dahulu. Budaya-budaya seperti ini masih terdapat di India hingga saat ini, khusunya di India yang masih bersifat tradisional.

Perempuan dalam Budaya China dan Jepang

Di negara China ataupun Jepang dahulu, budaya terhadap perempuan sedikit berbeda dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Di negara ini perempuan ataupun anak-anak perempuan merupakan tulang punggung keluarga. Bahkan, bila sangat dibutuhkan saat kondisi keuangan yang kurang sekali, para suami boleh menjual sang istri untuk mendapatkan imbalan uang. Poligami pun diperbolehkan untuk mensejahterakan kehidupan suami. Selain bekerja sebagai tulang punggung keluarga, perempuan China atau Jepang juga harus melayani penuh kebutuhan sang suami. Contohnya ketika waktu makan telah tiba, sang istri tidak boleh makan terlebih dahulu dibandingkan suami dan mereka tidak boleh makan bersama suami di dalam satu meja. Apabila sang istri tidak melahirkan seorang anak lelaki satu pun, maka perempuan tersebut dianggap sebagai orang yang hina. Untuk para perempuan yang belum menikah, sama seperti di India, mereka tidak boleh melihat calon suaminya. Di dalam masyarakat sendiri, seks bebas pun diperbolehkan.

Perempuan dalam Budaya Persia

Di atas bukit-bukit di Persia, pemerintah telah menyiapkan rumah-rumah yang beukuran kecil di sana. Setiap perempuan yang sedang haid diwajibkan untuk megungsi, diasingkan, dan tinggal di rumah-rumah kecil di atas bukit tersebut. Untuk perempuan yang telah menikah, sangat tidak diizinkan untuk melihat laki-laki lain, walaupun hanya sekedar penjual di suatu pasar. Kebanyakan perempuan ini harus tinggal di rumah. Apabila terdapat tamu yang datang berkunjung ke suatu rumah, maka kewajiban penghuni rumah adalah menjamu tamunya. Di antara tata cara menjamu tamu tersebut, sang istri wajib melayani tamu laki-laki di tempat tidur. Dalam hal anak pun, mereka sangat tidak suka bila memiliki anak perempuan.

Perempuan dalam Budaya Yahudi

Mengapa bangsa Yahudi sangat maju dalam banyak bidang? Allah telah mengkaruniakan kepintaran dan kepandaian yang luar biasa terhadap bangsa Yahudi. Oleh karena itu, mereka menggunakan kepintaran yang dimiliki untuk membentuk sebuah keluarga sebagai basis ekonomi politik bukannya social. Mereka mengumpulkan bangsa mereka pada satu daerah dan tidak terlalu tersebar di seluruh dunia.

Perempuan yang berusia 20 tahun harus disegerakan menikah. Menikahnya bisa dilakukan dengan jual beli, jadi sang pengantin perempuan bisa dibeli. Setelah menikah, saat melakukan malam pertama dengan sang suami, perempuan harus berdarah untuk menunjukkan keperawanannya.Suami pun akan mengontrol segala aktivitas yang harus dilakukan sang istri ataupun anak-anak karena istri dan anak-anak berada di bawah kuasa suami.

Bangsa Yahudi sangat ingin bisa meneruskan keturunannya dan menjadi bangsa yang besar sehingga seorang istri yang mandul akan diberikan hukuman. Tindakan aborsi pun dilarang keras walaupun hasil dari hamil di luar nikah yang disebabkan oleh perzinaan yang telah menjadi hal yang biasa di kehidupan masyarakatnya. Apabila terdapat saudara laki-laki yang meninggal dan ia meninggalkan seorang istri, maka saudara laki-laki lain yang masih hidup harus menikahi janda saudaranya, walaupun ia telah beristri. Talak untuk bercerai dipegang oleh suami, sedangkan istri tidak memiliki hak sedikit pun.

Kedudukan Perempuan dalam Islam

Islam memberikan hak dan kewajiban yang saa untuk seluruh perempuan tanpa memandang satus social. Walaupun perempuan itu kaya ataupun miskin tidak akan ada bedanya di mata Allah. Allah hanya akan melihat tingkat keimanan dan ketaqwaan dari hamba-Nya. Antara laki-laki dan perempuan pun tidak ada bedanya di mata Allah, berdasarkan QS. An-Nahl:97

97. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Seorang anak perempuan yang sedang dilamar oleh seorang laki-laki memiliki hak untuk ikut bermusyawarah bersama kedua orang tuanya untuk menentukan apakah laki-laki tersebut cocok dengan dirinya atau tidak. Tidak ada hal pemaksaan, dan anak perempuan tersebut boleh melihat calon suaminya. Apabila anak perempuan tersebut ingin memberikan syarat kepada calon suaminya, hal itu diperbolehkan. Misalnya memberikan syarat bahwa dirinya tidak mau dimadu.

Dalam menutup aurat, Islam bukannya mengekang perempuan sehingga mereka tidak bisa tampil cantik, tidak bisa keluar rumah, dan sebagainya. Islam memeberikan perlindungan yang begitu bagus dan indah dari mata para lelaki yang memandangnya.

Peran Muslimah sebagai Anak

Setiap anak, baik itu laki-laki ataupun perempuan, memiliki kewajiban dan hak yang sama. Kewajiban yang paling utama yaitu mentaati kedua orang tua, mengikuti semua perintah dan tuntutannya dalam selain ma’shiyat kepada Allah. Mentaati di sini telah mencakup ke dalam pengertian yang lain yaitu berbuat baik kepadanya, menghormatinya, mendoakannya, berbuat baik kepada sahabat-sahabatnya, menunaikan janji ketika orang tua sudah meninggal dan sebagianya.

Anak juga memiliki hak. Hak anak yang boleh diminta dari orang tua yaitu hak untuk dicintai dan diberi kasih sayang, mendapatkan bimbingan, diperlakukan sama, dan mendapatkan nafkah yang cukup.

Peran Muslimah sebagai Istri

Sebagai seorang istri, perempuan juga memeiliki peran dengan menjalankan kewajiban dan mendapatkan haknya. Kewajiban yang paling utama dari seorang istri yaitu mentaati suami, menjaga kehormatan harta, suami, dan anak-anaknya, selalu tampil menarik dihadapan suami, dan menjaga komitmen rumah tangga agar tidak terjadi perceraian.

Hak yang paling utama istri dari suami yaitu mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhannya, terjaga harta pribadi istri baik yang ia dapatkan dari suaminya maupun dari keluarganya, dan mendapatkan perlakuan yang baik dari suaminya.

Peran Muslimah sebagai Anggota Masyrakat

Setiap manusia pasti merupakan anggota masyarakat. Setiap individu di anggota masyarakat pasti memiliki kewajiban dan hak yang harus ditunaikan. Perempuan di dalam anggota masyarakat memiliki kewajiban untuk menjaga fasilitas umum, tidak menimbulkan hal-hal ma’shiyat seperti dengan cara menutup auratnya, mengutamakan aktifitas domestic di rumah dibandingkan di luar rumah, dan memberikan manfaat untuk lingkungan masyarakat sekitarnya. Perempuan juga memiliki hak dalam kehidupan di masyarakat yaitu mendapat perlindungan dalam aturan undang-undang sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan, mendapatkan kenyamanan dan fasilitas, mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk meraih posisi untuk aktualisasi dirinya, dan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi bagi kebaikan masyarakat.

Akhir dari kajian ini adalah bahwa antara laki-laki dan perempuan telah diatur dalam Al-Quran antara kewajiaban dan haknya. Jalankanlah sesuai fitrah masing-masing. Kemudian fikih perempuan juga harus dibarengin dengan etika yang ada. Contohnya ketika tetap menggunakan pakaian waktu shalat, walaupun telah tertutup oleh mukena.

Budaya-budaya yang ada di negara-negara lain tidak selamanya kurang baik karena masih ada beberapa sisi baik yang bisa diambil hikmahnya seperti perempuan di negara Jepang dan China. Perempuan di negara tersebut merupakan perempuan yang tetap terus ingin berdaya dan bermanfaat bagi orang di sekitarnya. Mereka banyak yang menjadi pedagang. Prinsip dalam hidup mereka yaitu tidak akan melepaskan uang begitu saja. Dalam penggunaannya pun tetap hemat dan selalu menyisihkan untuk ditabung.

QS. AN-Nahl:125

125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2010 in wanita(akhwat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: