RSS

Mendahulukan Orang Lain dalam Hal Dunia dan Ibadah

29 Jan

Artikel ini aku baca dari majalah Al-Furqon edisi 7 tahun ke-9 1431H/2010 oleh al-Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf.

Itsar merupakan  sikap mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Kebalikannya adalah atsarah yang bermakna mendahulukan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain. Itsar ada 2 macam:

Pertama: Itsar dalam perkara duniawi

Ini merupakan perkara yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Allah sangat menyenangi dan mencintainya. Perhatikan dalam firman Allah:

 

“Dan orang-orang yang telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. al-Hasyr[59]:9)

Itsar inilah yang tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan hidup para sahabat.

“Dari Umar bin Khoththob berkata: ‘Suatu hari Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk bershodaqoh, dan saat itu saya memiliki harta. Saya pun bergumam : ‘hari ini saya akan mengalahkan Abu Bakr, saya akan sedekahkan separuh hartaku.’ Maka Rasulullah bersabda: ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu wahai Umar?’ Umar menjawab: ‘Separuhnya lagi.’ Ternyata datanglah Abu Bakr membawa semua hartanya , maka Rasulullah bertanya: ‘Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu.’ Maka Abu Bakr menjawab: ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ “(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Kedua: Itsar dalam perkara ibadah

Mendahulukan orang lain dalamperkara ibadah adalah sesuatu yang dibenci, karena masing-masing orang diperintahkan untuk mengaungkan Allah Ta’ala. Oleh karenanya jika dia tidak melakukannya dan hanya melimpahkan pada orang lain adalah termasuk tindakan kurang adab kepada Allah.

Dengan beberapa contoh berikut semoga bisa dipahami:

1. Kalau si Zaid mempunyaiair yang hanya cukup untuk wudhu 1 orang, sedangkan saat itu dia membutuhkan wudhu, juga temannya yang saat itu sedang bersama dia, maka kewajiban Zaid adalah menggunakan air itu untuk berwudhu dan biarkanlah temannya itu bertayammum. Tidak boleh bagi Zaid untuk mempersilahkan temannya wudhu sedangkan dirinya sendiri bertayammum.

2. Kalau ada sesorang yang hanya mempunyai 1 pakaian yang menutup aurat dan saat itu datang waktu shalat, sedangkan dia punya saudara yang tidak punya pakaian yang menutup aurat, maka kewajiban yang punya tadi untuk shalat terlebih dahulu menggunakan pakaian tersebut baru kemudian nantinya dia pinjamkan kepada saudaranya. Dan todak boleh baginya untuk mendahulukan saudaranya tersebut dalam perkara ibadah.

3. Kalau ada seseorang yang berada di shaf pertama, maka dia tidak boleh mundur ke shof kedua untuk mempersilahkan orang lain menempati posisinya.

Wallahu a’lam

(Lihat Asybah wan Nadho-ir, as-Suyuthi hlm. 116, Asybah wan Nadho-ir, Ibnu Nujaim hlm. 119, al-Wajiz Dr. al-Burnu hlm 162)


Awalnya aku berpikir mendahulukan orang lain dalam segala hal termasuk ibadah itu sangat dianjurkan, tapi ternyata aku salah. Setelah membaca artikel ini aku baru menyadari bahwa mendahulukan orang lain dalam hal lain selain ibadah adalah disukai, sedangkan mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah adalah dibenci. Dulu sebelum aku mengetahui hal ini aku sering sekali berpikir bahwa membiarkan orang lain duluan shalat(misal dalam peminjaman alat shalat seperti mukena) diperbolehkan, tapi ternyata tidak. Kemudian aku segera merubah segala hal yang tertancap dalam pikranku dan berusaha menjadi lebih baik. Oleh karena itu ak u berusaha menyampaikan artikel ini kepada teman-temanku yang mungkin berpiran sama denganku pada awalnya.

Semoga bermanfaat.

Zpy_%tn!$£JÏiB(#qè?ré&šcrãÏO÷sãƒur#’n?tãöNÍkŦàÿRr&öqs9urtb%x.öNÍkÍ5×p|¹$|Áyz4`tBursqャx䩾ÏmÅ¡øÿtRšÍ´¯»s9résùãNèdšcqßsÎ=øÿßJø9$#ÇÒÈ

9. dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on January 29, 2010 in Islam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: